JAGUARQQ | DOMINO 99 | POKER | BANDARQ ONLINE

Kisah cerita ini aq bagikan karena aq juga terkadang jadi bingung akan kehidupan, sebut saja nama qu Imelda yang kuliah di Universitas Jakarta yang cukup terkenal, saat itu aq yang tergesa gesa sedang menghampiri kantor dosen untuk mengambil ujian kampus, terdengar suara panggilan dari Agensi Domino99

“Imelda….”
“Hei Ratih!.”
“Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?”, Ratih itu bertanya heran.
“Tau nih, aqu mau minta ujian payudaralan, sudah dua kali aqu minta diundur terus, kenapa ya?.”
“Idih jahat banget!”.
“Makanya, aqu taqut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aqu masuk dulu!”.
“He-eh deh, sampai nanti!” Ratih berlalu.

Dgn memberanikan diri aqu mengetuk pintu.
“Masuk!”, Sebuah suara yg amat ditaqutinya menyilakannya masuk.
“Selamat siang pak!”.
“Selamat siang, kamu siapa?”, tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yg sedang dikerjakannya.
“Saya Imelda!”. “Aqu..?”
“Oh, yg mau minta ujian lagi itu ya?”.
“Iya bener pak.”
“Saya tak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kamu datang ke rumah saya, ini kartu nama saya”,

Katanya acuh tak acuh sambil menyerahkan kartu namanya.
“Ada lagi?” tanya dosen itu.
“Tak pak, selamat siang!”
“Selamat siang!”.

Dgn lemas aqu beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah belajar sampai larut malam, sampai di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh! Mungkin hanya aqulah yg hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Hari ini aqu harus memenuhi ujian payudaralan di rumah Pak Herman, dosen bajingan itu.

Rumah Pak Herman terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yg sudah mulai tua tetapi tetap segar muncul.

“Ehh! Imelda, ayo masuk!”, sapa orang itu yg tak lain adalah pak Herman sendiri.
“Permisi pak! Ibu mana?”, tanyaqu berbasa-basi.
“Ibu sedang pergi dgn anak-anak ke rumah neneknya!”, sahut pak Herman ramah.
“Sebentar ya, katanya lagi sambil masuk ke dalem ruangan”.

Tumben tak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer. Rumah Pak Herman tertata rapi. Dinding ruang tamunya bercat putih. Di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. Di tengahnya ada hamparan permadani berrambut, dan kursi sofa kelas satu.

“Gimana sudah siap?”, tanya pak Herman mengejutkan aqu dari lamunannya.
“Eh sudah pak!”
“Sebenernya, sebenernya Imelda tak perlu mengikuti ulang payudaralan kalau….”,
“Kalau! Kalau apa pak?”, aqu bertanya tak mengerti.
Belum habis bicaranya, Pak Herman sudah menuburuk badanku.
“Pak, apa-apaan ini?”, tanyaqu kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.

“Jangan berpura-pura Imelda sayang, aqu membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aqu!”, sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku. Serentak Rambut kudukku berdiri. Geli, jijik, tetapi detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku.. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaqu semaunya atas diriku. Harus kuaqui memang, walaupun dia lebih pantas jadi bapakku, tetapi sebenernya lelaki tua ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi aqu tetap berusaha meronta- ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Herman.

“Lepaskan, Pak jangan hhmmpppff!”, kata-kataqu tak terselesaikan karena terburu bibirku tersumbat mulut pak Herman. Aqu meronta dan berhasil melepaskan diri. Aqu bangkit dan berlari menghindar. Tetapi entah mengapa aqu justru berlari masuk ke sebuah kamar tidur. Kurapatkan badanku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yg terengah-engah, entah mengapa birahiku sedemikian cepat naik. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.

images

Pak Herman seperti diberi kesempatan emas. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya. Lalu dgn perlahan ia mendekatiku. Badanku bergetar hebat manakala lelaki tua itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. Dgn sekali tarik aqu jatuh ke pelukan Pak Herman, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki tua itu. Terasa lidahnya yg kasap bermain menyapu telak di dalem mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dgn rasa ingin dicumbui yg semakin kuat hingga akhirnya aqupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya.

Terbayang olehku saat-saat aqu dicumbui seperti itu oleh Aldy, entah sedang di mana dia sekarang. aqu tak menolak lagi. bahkan kini malah membalas dgn hangat.
Merasa mendapat angin kini tangan Pak Herman bahkan makin berani menelusup di balik blouse yg aqu pakai, tak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yg aqu pakai.

Jantungku berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yg ada di dadaqu dgn gemas. Terasa bener, telapak tangannya yg kasap di permukaan buah dadaqu, ditingkahi dgn jari-jarinya yg nakal mepermainkan puting payudaraku. Gemas sekali nampaknya dia. Tangannya makin lama makin kasar bergerak di dadaqu ke kanan dan ke kiri.

Setelah puas, dgn tak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yg aqu pakai satu demi satu hingga berceceran di lantai. Hingga akhirnya aqu hanya memakai secarik G-string saja. Bergegas pula Pak Herman melucuti kaos oblong dan sarungnya. Di baliknya menyembul gagang kemaluan laki-laki itu yg telah menegang, sebesar lengan Bayi.

Tak terasa aqu menjerit ngeri, aqu belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Aqu sedikit ngeri. Bisa jebol milikku dimasuki benda itu. Tetapi aqu tak dapat menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataqu terus tertuju ke benda itu. Pak Herman berjalan mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai sampai ke punggung.

Streaming-sex-cewek-indo-mesum-hd

“Kau Cantik sekali Imelda”, gumam pak Herman mengagumi kecantikanku.
Aqu hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar pujian itu. Dgn lembut Pak Herman mendorong badanku sampai terduduk di pinggir kasur. Lalu ia menarik G-string, kain terakhir yg menutupi badanku dan dibuangnya ke lantai. Kini kami berdua telah telanjang bulat.

Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dgn gemas ia mementangkan kedua belah pahaqu lebar-lebar. Matanya bener-bener nanar memandang daerah di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu.

Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluanku yg tertutup rambut lebat itu. Aqu memejamkan mata, oohh, indahnya, aqu sungguh menikmatinya, sampai-sampai badanku dibuat menggelinjang-gelinjang kegelian.

“Pak!”, rintihku memelas.
“Pak, aqu tak tahan lagi!”, aqu memelas sambil menggigit bibir.

Sungguh aqu tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yg dilancarkan Pak Herman. Tetapi rupanya lelaki tua itu tak peduli, bahkan senang melihat aqu dalem keadaan demikian. Ini terlihat dari gerakan tangannya yg kini bahkan terjulur ke atas meremas-remas buah dadaqu, tetapi tak menyudahi perbuatannya. Padahal aqu sudah kewalahan dan telah sangat basah kuyup.

Baca Juga : Pelayanan Plus Dari Room Service Hotel

“Paakk, aakkhh!”, aqu mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Herman melampiaskan derita birahiku, kujambak rambut Pak Herman keras-keras. Kini aqu tak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yg aqu hormati. Sungguh lihai laki-laki ini membangkitkan gairahku. aqu yakin dgn nafsunya yg sebesar itu dia tentu sangat berpengalaman dalem hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yg sudah digaulinya.

Tapi apa peduliku?

Tiba-tiba Pak Herman melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yg masih terduduk di tepi ranjang dgn bagian bawah perutnya persis berada di depan wajahku. aqu sudah tahu apa yg dia mau, tetapi tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaqu untuk dibawa mendekati kejantanannya yg aduh mak.., Sungguh besar itu. Tanpa melawan sama sekali aqu membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak Herman ke dalem mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan.

Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit gagangnya saja ke dalem mulutku. Itupun sudah terasa penuh. Aqu hampir sesak nafas dibuatnya. Aqu pun bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan gagang itu keluar masuk ke dalem mulutku. Terasa bener kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahku menyapu kepalanya. Beberapa saat kemudian Pak Herman melepaskan diri, ia membaringkan aqu di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki badanku belakang. Ketika itu pula kepala kemaluan Pak Herman yg besar itu menggesek clitoris di lubang senggamaqu hingga aqu merintih kenikmatan.

Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalem milikku yg memang sudah sangat basah.
Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalem milikku. Dan ketika dgn kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalem diriku aqu tak kuasa menahan diri untuk tak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.

Pak Herman cukup mengerti keadaan diriku, ketika dia selesai masuk seluruhnya dia memberi kesempatan padaqu untuk menguasai diri beberapa saat. Sebelum kemudian dia mulai menggoygkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.

Aqu sungguh tak kuasa untuk tak merintih setiap Pak Herman menggerakkan badannya, gesekan demi gesekan di dinding dalem lubang senggamaqu sungguh membuatku lupa ingatan. Pak Herman menyebadani aqu dgn cara itu. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas buah dadaqu. Aqu dapat merasakan puting payudaraku mulai mengeras, runcing dan kaku.

Aqu bisa melihat bagaimana gagang kemaluan lelaki itu keluar masuk ke dalem lubang kemaluanku. Aqu selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalem. Milikku hampir tak dapat menampung ukuran Pak Herman yg super itu, dan ini makin membuat Pak Herman tergila-gila.

Tak sampai di situ, beberapa menit kemudian Pak Herman membalik badanku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah buah dada aqu yg kini menggantung berat ke bawah.

Sebagai seorang wanita aqu memiliki daya tahan alami dalem bersebadan. Tapi bahkan kini aqu kewalahan menghadapi Pak Herman. Laki-laki itu bener-bener luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia bertahan. Aqu yg kini duduk mengangkangi badannya hampir kehabisan nafas.

Kupacu terus goygan pinggulku, karena aqu merasa sebentar lagi aqu akan memperolehnya. Terus, terus, aqu tak peduli lagi dgn gerakanku yg brutal ataupun suaraqu yg kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa itu. Dan ketika orgasme itu sampai, aqu tak peduli lagi, aqu memekik keras sambil menjambak rambutnya. Dunia serasa berputar. Sekujur badanku mengejang. Sungguh hebat rasa yg kurasakan kali ini. Sungguh ironi memang, aqu mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dgn orang yg aqu sukai. Tapi masa bodohlah. Berkali-kali kuusap keringat yg membasahi dahiku. Pak Herman kemudian kembali mengambil inisiatif. kini gantian Pak Herman yg menindihi badanku. Ia memacu keras untuk mencapai orgasme. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goygan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar.

Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur badannya dan badanku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh hebat laki-laki ini. Walaupun sudah berumur tapi masih bertahan segitu lama. Bahkan mengalahkan semua lelaki-lelaki yg pernah tidur dgnku, walaupun mereka rata-rata sebaya dgnku.

Tetapi beberapa saat kemudian, Pak Herman mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya. Badan lelaki tua itu bergetar hebat di atas badanku. Kemaluannya menyemburkan cairan kental yg hangat ke dalem lubang kemaluanku dgn derasnya.
Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri. Kami terbaring kelelahan di atas kasur itu. Nafasku yg tinggal satu-satu bercampur dgn bunyi nafasnya yg berat. Kami masing- masing terdiam mengumpulkan tenaga kami yg sudah tercerai berai.

Aqu sendiri terpejam sambil mencoba merasakan kenikmatan yg baru saja aqu alami di sekujur badanku ini. Terasa bener ada cairan kental yg hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalem lubang kemaluanqu. Hangat dan sedikit gatal menggelitik. Bagian bawah badanku itu terasa bener-bener banjir, basah kuyub. Aqu menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun langsung dipenuhi dgn cairan kental berwarna putih payudara yg berlepotan di sana.

“Bukan main Imelda, ternyata kau pun seperti kuda liar!” kata Pak Herman penuh kepuasan.

Aqu yg berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah. aqu sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataqu untuk sejenak beristirahat. Persetan dgn badanku yg masih telanjang bulat. Pak Herman kemudian bangkit berdiri, ia menyulut segagang rokok. Lalu lelaki tua itu mulai mengenakan kembali pakaiannya. Aqu pun dgn malas bangkit dan mengumpulkan pakaiannya yg berserakan di lantai. Sambil berpakaian ia bertanya,

“Bagaimana dgn ujian saya pak?.”
“Minggu depan kamu dapat mengambil hasilnya”, sahut laki-laki itu pendek.
“Kenapa tak besok pagi saja?”, protes aqu tak puas.
“Aqu masih ingin bertemu kamu, selama seminggu ini aqu minta agar kau tak tidur dgn lelaki lain kecuali aqu!”, jawab Pak Herman.

Aqu sedikit terkejut dgn jawabannya itu. Tapi aqupun segera dapat menguasai keadaanku. Rupanya dia belum puas dgn pelayanan habis-habisanku barusan.

“Aqu tak bisa janji!”, sahutku seenaknya sambil bangkit berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar mandi.

Pak Herman hanya mampu terbengong mendengar jawabanku yg seenaknya itu. Aqu sedang berjalan santai meninggalkan rumah pak Herman, ini pertemuanku yg ketiga dgn laki-
laki itu demi menebus nilai ujianku yg selalu jeblok jika ujian dgn dia. Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar dia bisa main dgnku.

Dasar, tetapi harus kuaqui, dia laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa jika dibandingkan dgn usianya yg hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini dia masih sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu aqu datang, dan dua kali di kamar tidur. Aqu sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang.

Berutung kali ini, aqu bisa memaksanya menandatangani berkas ujian payudaralanku.

“Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan?”, katanya sambil membubuhkan nilai A di berkas ujianku.
“Selama bapak masih bisa memberiku nilai A”, kataqu pendek.
“Segeralah mendaftar, kuliah akan dimulai minggu depan!”.
“Terima kasih pak!” kataqu sambil tak lupa memberikan senyum semanis mungkin.

Setelah itu aq berangkat menuju keluar dari rumah pak Herman, disaat baru aq berjalan beberapa ratus meter dari perumahan.

“Imelda!” teriakan seseorang mengejutkan lamunanku.

Baca Juga :  Demi Nilai Dan Kelulusan Aku Pasrahkan Kepada Dosen Bejatku Memuaskan Nafsunya Part2

Domino99
Iklan